WASHINGTON, KILAS-SWARA.COM (4 SEPTEMBER 2026) – Amerika Serikat didesak untuk mengambil langkah agresif, termasuk menyiapkan kemungkinan opsi militer, guna memastikan kepemimpinan global dalam pengembangan Artificial General Intelligence (AGI). Sebuah laporan strategis terbaru memperingatkan bahwa persaingan menuju kecerdasan buatan tingkat tinggi ini bukan sekadar perlombaan teknologi biasa, melainkan menyangkut ketahanan nasional dan dominasi kekuatan dunia di masa depan.
Rekomendasi tersebut menekankan bahwa keberhasilan China mencapai AGI lebih dulu dapat menyebabkan pergeseran keseimbangan kekuasaan global yang tidak dapat dipulihkan. Oleh karena itu, Washington diminta untuk bersiap menggunakan seluruh instrumen kekuatan nasional, yang mencakup langkah sabotase hingga serangan militer preventif terhadap infrastruktur komputasi strategis milik Beijing jika situasi dianggap membahayakan posisi Amerika.
Sikap keras ini mencerminkan kecemasan yang semakin mendalam di kalangan pejabat keamanan AS terkait pesatnya kemajuan teknologi China. Laporan tersebut menyarankan adanya upaya berskala besar setingkat Proyek Manhattan untuk mempercepat riset AGI domestik, dibarengi dengan kontrol ekspor yang lebih ketat pada cip canggih dan perangkat lunak AI guna menghambat kemajuan kompetitor utama mereka secara signifikan.
Meskipun pendekatan militeristik ini memicu kekhawatiran akan terjadinya eskalasi konflik terbuka antara kedua negara adidaya, para pendukung kebijakan ini berpendapat bahwa risiko strategis akibat tertinggal jauh lebih fatal. Persaingan teknologi ini dipandang sebagai tantangan keamanan paling krusial di abad ke-21 yang menuntut tindakan tegas tanpa kompromi. Laporan ini disusun kembali oleh KilasSwara.
















