JAKARTA, KILAS-SWARA.COM (13/10/2026) – Gerakan Nurani Bangsa (GNB) secara resmi mendesak pemerintah untuk segera menetapkan status tanggap darurat nasional terkait bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas. Berdasarkan pemantauan intensif, diperkirakan sebanyak 12,5 juta warga kini terpapar dampak serius dari kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah, yang tidak hanya mengancam ekosistem tetapi juga melumpuhkan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Kondisi kualitas udara di provinsi-provinsi terdampak dilaporkan telah mencapai level yang membahayakan, memicu lonjakan signifikan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tengah masyarakat. GNB menekankan bahwa anak-anak dan kelompok lanjut usia menjadi pihak yang paling rentan terhadap paparan polutan berbahaya ini, sehingga diperlukan penanganan medis yang cepat dan terintegrasi untuk mencegah jatuhnya korban jiwa lebih lanjut.
Menurut penilaian Gerakan Nurani Bangsa, langkah-langkah penanganan yang dilakukan saat ini dianggap belum memadai untuk meredam eskalasi titik api dan dampak kesehatan yang ditimbulkan. Penetapan status darurat nasional dipandang sebagai instrumen hukum penting yang memungkinkan pengerahan sumber daya pusat secara lebih masif, baik dalam hal logistik pemadaman api maupun penyediaan layanan kesehatan darurat bagi jutaan penduduk yang terdampak.
Selain desakan terhadap intervensi fisik di lapangan, pemerintah juga diminta untuk memperkuat penegakan hukum bagi pelaku pembakaran serta meningkatkan transparansi dalam upaya mitigasi bencana. Perlindungan terhadap kedaulatan lingkungan hidup harus menjadi prioritas utama guna memastikan siklus bencana tahunan ini tidak terus terulang di masa mendatang, laporan ini disusun kembali oleh KilasSwara.











