NEW YORK, ANTARA NEWS (25SEPTEMBER 2026) – Suasana Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York mendadak riuh saat puluhan delegasi negara memutuskan untuk meninggalkan ruangan secara serentak ketika Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, hendak memulai pidatonya. Aksi walk out massal ini merupakan bentuk protes diplomatik yang sangat tegas terhadap kebijakan militer Israel di Jalur Gaza serta eskalasi konflik yang merambah ke wilayah Lebanon.
Berdasarkan pantauan di lokasi, setidaknya perwakilan dari 70 negara dilaporkan ikut serta dalam aksi pengosongan kursi tersebut, menyisakan banyak ruang kosong di aula utama markas besar PBB. Sebagian besar delegasi yang melakukan aksi ini berasal dari negara-negara Arab, negara berkembang, serta anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Langkah kolektif ini mencerminkan tingginya tensi internasional dan ketidakpuasan global terhadap situasi kemanusiaan yang terus memburuk di Timur Tengah.
Meskipun menghadapi penolakan luas dari banyak negara anggota, Netanyahu tetap melanjutkan pidatonya di hadapan audiens yang tersisa, yang sebagian besar terdiri dari pendukungnya sendiri dan delegasi tingkat rendah. Dalam narasinya, ia secara konsisten menegaskan posisi Israel untuk terus melakukan pembelaan diri dan melancarkan serangan terhadap pihak-pihak yang dianggap sebagai ancaman keamanan bagi negaranya. Ia menyatakan bahwa operasi militer akan terus berlanjut hingga target strategis mereka tercapai sepenuhnya.
Di sisi lain, aksi diplomatik di dalam ruang sidang ini juga diikuti dengan gelombang demonstrasi besar di luar gedung PBB yang menuntut penghentian segera kekerasan di wilayah konflik. Fenomena pengosongan ruang sidang ini menjadi simbol kuat mengenai isolasi diplomatik yang mulai dirasakan Israel di tengah tekanan masyarakat internasional bagi terwujudnya gencatan senjata yang permanen. Laporan ini disusun kembali oleh KilasSwara.











