Kebakaran Lahan di Taman Nasional Gunung Rinjani Meluas Hingga 589 Hektare

ANTARA/HO-Humas Balai TNGR

MATARAM, KILAS-SWARA.COM (25 September 2026) – Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) melaporkan bahwa total luas area yang terdampak kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Rinjani telah mencapai 589 hektare. Angka ini merupakan akumulasi dari beberapa titik api yang muncul di sejumlah wilayah administratif taman nasional tersebut selama periode musim kemarau tahun ini. Otoritas terkait terus memantau perkembangan situasi di lapangan guna meminimalkan dampak kerusakan lingkungan yang lebih luas.

Titik api dilaporkan tersebar di beberapa lokasi strategis, termasuk wilayah kerja resor Sembalun dan Senaru yang merupakan jalur utama pendakian. Kondisi vegetasi yang mengering serta hembusan angin kencang di ketinggian menjadi tantangan utama yang menyebabkan api cepat merambat ke area savana dan hutan lindung. Tim pemantau menggunakan teknologi satelit serta patroli udara untuk mendeteksi sebaran titik panas secara real-time demi efektivitas penanggulangan.

Upaya pemadaman dilakukan secara intensif oleh tim gabungan yang melibatkan personel Manggala Agni, TNI, Polri, serta kelompok masyarakat peduli api dan relawan setempat. Meskipun menghadapi kendala berupa medan yang curam dan akses jalan yang terbatas, petugas terus berupaya melokalisir api agar tidak menjalar ke kawasan hutan primer. Koordinasi antar lembaga diperkuat untuk memastikan logistik dan personel pendukung tetap tersedia di lokasi-lokasi krusial selama proses pemadaman berlangsung.

Pihak Balai TNGR juga mengeluarkan imbauan keras kepada para pendaki dan masyarakat sekitar untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berisiko memicu kebakaran lahan. Evaluasi menyeluruh terkait dampak ekologis dan pemulihan ekosistem akan segera dilakukan setelah situasi dinyatakan benar-benar aman dari potensi api susulan. Laporan mengenai kondisi terkini di lapangan ini disusun kembali oleh KilasSwara.

Terkait penyebab pasti kebakaran, investigasi mendalam masih terus berjalan untuk menentukan apakah insiden ini murni disebabkan oleh faktor alam atau ada unsur kelalaian manusia. Peningkatan pengawasan di pintu-pintu masuk pendakian menjadi salah satu langkah preventif yang diambil untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali di masa mendatang. Artikel ini ditulis ulang dan diterbitkan oleh KilasSwara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *